A Story of Determination - SBMPTN 2017
Saya ingin berkuliah di ITB. Oleh karena itu, pada Februari 2016 saya mendaftar ke Bimbel Inten. Bimbel ini banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya karena persentase kelulusannya cukup tinggi. Di Inten, para murid belajar tiga kali seminggu. Kami dapat memilih jadwal Senin–Rabu–Jumat atau Selasa–Kamis–Sabtu. Jam belajarnya dimulai pukul 16.30 hingga 20.00.
Awalnya, saya memilih mengikuti jadwal Senin–Rabu–Jumat. Mengapa tidak Selasa–Kamis–Sabtu? Karena saya adalah anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang beribadah pada hari Sabtu. Jika saya memilih Selasa–Kamis–Sabtu, saya hanya bisa hadir dua dari tiga kali pertemuan setiap minggu.
Namun, setelah beberapa minggu di Inten, saya memutuskan pindah ke jadwal Selasa–Kamis–Sabtu. Alasannya, di Gereja Advent ada ibadah rutin setiap Rabu malam dan Jumat malam. Jika saya tetap mengikuti jadwal Rabu dan Jumat malam di Inten, saya tidak dapat ikut ibadah. Karena itu, saya pindah ke Selasa–Kamis–Sabtu. Tidak apa-apa saya tidak hadir pada Sabtu; yang penting saya tetap bisa mengikuti ibadah Rabu malam dan Vesper.
Di Inten, kami belajar dua mata pelajaran setiap hari. Masing-masing diberi waktu 90 menit: 60 menit pertama untuk pemaparan materi, dan 30 menit berikutnya untuk kuis atau latihan soal. Biasanya satu sesi mencakup satu bab. Kami diwajibkan memiliki buku catatan berupa binder. Saat pertama kali mengikuti bimbel, saya baru mengetahui bahwa soal-soal SBMPTN jauh lebih sulit dibanding soal-soal di sekolah. Namun saya tetap berusaha.
Di setiap akhir bulan, seluruh cabang Inten di Indonesia mengadakan tryout serentak pada hari Minggu. Tryout ini berguna untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita menghadapi soal-soal SBMPTN. Pada semester pertama, nilai tryout saya belum bagus—belum cukup untuk masuk ITB. Guru saya berharap murid-murid di kelasnya menjadi 40 siswa terbaik di Inten, yang dikenal dengan istilah “Lembar Pertama.”
Pada bulan September 2016, saya mulai terpikir untuk menggunakan Zenius. Karena saya tidak selalu bisa hadir di Inten, saya sering ketinggalan pelajaran. Akhirnya saya membeli voucher Zenius untuk sembilan bulan. Saat menonton video-videonya, ternyata materinya sangat bagus. Saya pun terkesima dengan Zenius dan ingin semua teman saya menggunakannya; saya bahkan mempromosikan Zenius ke mereka. Sejak saat itu, saya mulai belajar dengan sangat keras. Saya hanya tidur enam jam sehari dan selalu mengerjakan soal-soal dari buku Inten. Meski begitu, saya masih meraih skor TO 30-an, peringkat 3 di kelas, dan peringkat 1.300-an di Jabodetabek (dari total sekitar 3.400 siswa Inten IPA).
Memasuki November 2016, saya merasa belum ada peningkatan berarti dalam belajar. Saya pun menyadari perlu ada perubahan dari dalam diri saya. Saya teringat ucapan Bang Sabda di Zenius Learning bahwa kita harus membuang distraksi. Sejak saat itu saya bertekad menghapus semua hal yang mendistraksi saya—mulai dari Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan lain-lain. Sayangnya akun Instagram dan Twitter saya hilang selamanya karena terlalu lama saya deaktivasi, hehe. Selain itu saya juga menghapus LINE biasa dan beralih ke LINE Lite karena fitur LINE Today dan Timeline benar-benar menyita waktu saya. Sosial media saya hanya tinggal BBM dan WhatsApp, yang menurut saya tidak terlalu mengganggu.
Saya juga berhenti main game atau menonton film yang bisa mengganggu konsentrasi belajar. Bahkan saya tidak chatting-chattingan dengan teman saya. Pernah suatu kali seorang kawan mengirimkan video Kak Wilona (salah satu tutor Zenius paling digemari) yang sedang berbicara untuk saya, tetapi saya tidak membukanya saking fokusnya saya belajar. Saya bersyukur atas tindakan ini karena Mama dan Bapak menjadi bangga kepada saya 😊
Setiap minggu sekali, tepatnya pada hari Minggu, saya mengerjakan soal-soal campuran dari buku C-MEDIA. Soal-soalnya cukup sulit. Pernah saat saya pergi ke Bali, saya membawa buku catatan dan buku C-MEDIA yang super tebal. Ketika menunggu pesawat yang mengalami delay, saya menulis catatan biologi yang difoto oleh teman saya di Inten. Setibanya di hotel di Bali, saya juga mengerjakan soal C-MEDIA. Itu saya sebut tryout mandiri: saya mengerjakan satu paket soal SBMPTN asli seolah-olah sedang mengikuti ujian SBMPTN yang sebenarnya. Saat itu saya mendapat skor 44%. Ketika kawan-kawan saya tidur, saya tetap belajar. Saya tidak mengenal lelah.
Di Bali saya bertemu dengan seseorang yang sudah berkuliah di FK Unsri bernama Bang Gerry. Ternyata dia juga alumni Inten. Dia pernah mendapatkan skor 70% di Inten. Saya sangat termotivasi oleh cerita dia dan mengatakan bahwa saya ingin masuk ITB.
Saya mempertahankan pola belajar ini hingga bulan Desember. Akhirnya, pada Tryout (TO) bulan Desember, puji Tuhan saya meraih skor 50%, peringkat 150 dari 3.400 siswa Inten IPA di Jabodetabek, dan juara 5 di Inten Tosoto (cabang saya). Mulai saat itu, saya merasa ada harapan untuk masuk ke 40 besar siswa terbaik di Inten se-Jabodetabek yang biasa disebut “Lembar Pertama.”
Kemudian tibalah saat saya pulang kampung. Saya membawa semua buku Inten ke kampung. Kampung saya berada di Sumatera Utara: kampung Bapak saya di Kabupaten Langkat dan kampung Mama saya di Sidikalang, Kabupaten Dairi. Saya berdarah Batak Karo dan Batak Toba. Di perjalanan, saya tetap membaca catatan Inten berulang kali meskipun Bapak saya sebenarnya melarang saya belajar di mobil. Saya memang keras kepala.
Di kampung saya tetap belajar meskipun udara sangat dingin. Saya tetap bangun jam tiga pagi untuk belajar karena saya tahu jika bangun lebih siang, sepupu-sepupu saya sudah ramai sehingga saya sulit berkonsentrasi. Saya juga mengatakan kepada kerabat saya bahwa saya ingin masuk ITB. Mereka pun berharap saya bisa lulus. Saat di kampung, saya bahkan bermimpi mendapatkan skor 70% di TO Inten.
Di perjalanan pulang, saya menghabiskan waktu bermain HP—saya mencari di internet “Perjuangan Masuk ITB” atau “Perjuangan Masuk PTN.” Saya mendapati bahwa kebanyakan orang menggunakan Zenius dan Wangsit. Apa itu Wangsit? Ternyata Wangsit adalah buku latihan soal SBMPTN yang disusun per bab dan berisi soal-soal asli. Saya pun teringat buku ini karena pernah dipromosikan oleh kakak kelas saya, Bang Andrew Rachmatedy, yang bisa masuk Teknik Arsitektur UNDIP tanpa bimbel. Saya pun tertarik membeli Wangsit.
Sebenarnya selama ini saya sudah mengerjakan soal-soal per bab di buku Inten. Namun buku Inten tidak memiliki pembahasan, sehingga kita harus bertanya pada guru, dan itu memakan waktu. Karena itu, saya mulai mengerjakan soal-soal per bab di Zenius. Namun, untuk mengetahui pembahasan di Zenius saya harus mendengarkan tutor menyelesaikan soal, sedangkan saya butuh cara yang lebih cepat. Nah, buku Wangsit ini pembahasannya sudah ada dan bisa langsung dibaca, jadi saya bisa lebih cepat menyelesaikan latihan soal.
Di perjalanan pulang itu juga—saya percaya ini datangnya dari Tuhan—saya mulai terpikir untuk membuat jadwal belajar harian. Saya menyusun apa yang ingin saya pelajari hari ini dan besok. Saya juga membuat daftar semua bab yang diujikan di SBMPTN. Biasanya, dalam satu hari saya mempelajari satu atau dua bab. Kadang satu bab membutuhkan dua sampai tiga hari, terutama bab yang panjang seperti stoikiometri. Namun saya tetap melakukannya dengan konsisten. Untuk teori, saya menonton Zenius; untuk soal, saya menggunakan Wangsit. Saya pun mulai jarang mengerjakan soal dari modul Inten, kecuali saat kuis di kelas. Setelah membeli Wangsit, saya juga mempromosikannya ke teman-teman; beberapa dari mereka mulai membeli Wangsit juga.
Saya pun mulai serius mengerjakan Wangsit. Setiap ada soal yang tidak bisa saya kerjakan—misalnya soal kimia bab stoikiometri nomor 10—saya memberi stabilo pada nomor soal tersebut sebagai tanda bahwa saya belum bisa. Setelah itu saya melihat pembahasannya. Nantinya, ketika jadwal belajar kimia tiba, saya mempelajari bab baru, misalnya bab laju reaksi. Setelah selesai mengerjakan soal di bab laju reaksi, saya kembali ke bab stoikiometri untuk mencoba mengerjakan ulang soal yang saya tandai. Jika tetap tidak bisa, saya menandainya kembali dengan warna stabilo berbeda; jika berhasil, saya memberi tanda ceklis pada nomor soal tersebut.
Di Zenius, kita juga diajarkan untuk tidak menghafal karena belajar dengan cara menghafal sangat tidak efektif—baik itu menghafal rumus, kata-kata, cara, maupun tipe soal. Saya dulu pernah berusaha menghafalkan semua identitas trigonometri, tetapi hasilnya tetap saja saya tidak bisa mengingatnya. Kita perlu membuktikan rumus, bukan menghafalnya. Wajar saja nilai TO saya dulu rendah karena saya belajar dengan cara yang salah. Setelah mengenal Zenius, saya berhenti menghafal; yang saya lakukan adalah memahami konsep.
Di Zenius, saya pertama kali mengenal istilah Deliberate Practice. Ini adalah metode latihan dengan mengerjakan hal yang sama secara berulang-ulang agar kita menjadi ahli dalam bidang tersebut. Namun kita juga harus mempelajari subskills yang dibutuhkan untuk menguasai keterampilan itu. Misalnya, kalau kita ingin mahir bermain bola, yang kita lakukan bukan hanya “tanding” terus-menerus, tetapi juga berlatih keterampilan dasar, seperti berlari, latihan stamina, passing, dan lain-lain. Semua itu harus dilakukan berulang kali.
Hal yang sama berlaku untuk matematika. Kita jangan langsung mengerjakan soal-soal campuran, tetapi kerjakan soal per bab. Misalnya bab integral. Bab integral ini merupakan gabungan dari berbagai bab lain—grafik, trigonometri, dan sebagainya. Jangan harap kita bisa mahir mengerjakan integral kalau bab grafik saja belum paham. Pelajarilah bab grafik terlebih dahulu. Setelah menguasainya, baru masuk ke bab integral, lalu kerjakan soal campuran. Dulu saat saya baru masuk Inten, saya bahkan belum paham cara menggambar grafik. Wajar saja saya kesulitan mengerjakan soal integral dan nilai TO saya rendah.
Suatu kali di Inten diadakan “Pra Intensif” di mana kami mengerjakan soal-soal campuran SBMPTN dan SIMAK (soal asli). Saya merasa kurang cocok dengan pra intensif ini karena saya harus mengerjakan soal-soal campuran sedangkan belum semua bab saya pelajari. Saya memutuskan untuk tidak masuk Inten selama dua minggu. Mama saya khawatir saya akan ketinggalan pelajaran, tetapi saya tidak takut karena saya sudah tahu cara belajar yang benar. Hingga akhirnya tiba tryout bulan Februari 2017, puji Tuhan, dengan metode belajar ini saya mencapai nilai 58%, peringkat 20-an di Inten Jakarta dari ribuan orang, dan juara 1 di Inten Tosoto. Puji Tuhan saya berhasil masuk Lembar Pertama.
Hingga tibalah bulan-bulan mendekati UNBK. Jujur, saya tidak punya persiapan khusus untuk UN. Saya hanya belajar lima hari sebelum UN karena saya yakin apabila saya bisa mengerjakan soal SBMPTN, maka UN pun bisa saya kerjakan. Akhirnya UN selesai. Walaupun saya tidak mendapat nilai sempurna, yang penting saya lulus.
Setelah UN, di bimbel saya ada kegiatan bernama “Super Intensif”. Di sini kami digembleng selama satu bulan penuh mengerjakan soal-soal latihan SBMPTN yang sudah dimodifikasi serta dipersulit oleh tim Inten. Saya merasa kurang cocok dengan program super intensif ini karena setiap hari kami hanya mengerjakan soal campuran. Padahal, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, mengerjakan soal campuran tidak akan otomatis membuat kita semakin mahir menghadapi SBMPTN; kuncinya adalah Deliberate Practice. Alhasil, saya memutuskan untuk tidak masuk bimbel Inten selama satu minggu, walaupun akhirnya saya kembali karena ingin belajar bersama teman-teman.
Selama tidak masuk bimbel, saya fokus menamatkan buku Wangsit. Hasilnya, buku Wangsit yang berhasil saya selesaikan hanya Matematika dan Fisika. Pada periode super intensif ini saya tidak lagi mempelajari materi baru; materi yang belum saya pelajari saya pilih untuk skip karena tekanannya sangat besar dan saya tidak fokus mengejarnya. Saya benar-benar fokus pada latihan soal-soal SBMPTN.
Tibalah saat pengumuman hasil SNMPTN Undangan. Saya memilih STEI ITB dan FTSL ITB. Sejak awal saya sudah memprediksi peluang saya sangat kecil, dan benar saja—saya tidak lolos. Sekolah saya memang sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun, tetapi belum ada satu pun murid yang lolos ujian masuk ITB. Bahkan hingga tahun lalu (2016), hanya satu orang murid yang berhasil lolos SBMPTN. Di sekolah saya pun belum ada satu orang pun yang pernah lolos SNMPTN Undangan hingga hari ini (20 Juni 2017). Namun saya tetap bertekad untuk menggantungkan impian setinggi-tingginya dan tidak menyerah.
Saat saya mendaftar SBMPTN, saya memilih:
-
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB
-
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB
-
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB
Nyari mati? Memang. Guru dan teman-teman saya pun mengatakan pilihan saya cukup nekat. Berdasarkan passing grade yang beredar di internet, semua jurusan di ITB memiliki standar yang sangat tinggi, sementara nilai tryout saya hanya sekali tembus untuk pilihan ketiga. Saya tahu maksud mereka baik, tetapi saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan Kampus Ganesha.
Jujur, sebelumnya saya adalah orang yang sangat ambisius dan hanya ingin kuliah di ITB. Jika saya tidak diterima di ITB, saya merasa tidak ingin kuliah sama sekali. Saat itu saya kurang berserah kepada Tuhan. Seandainya saya tidak lulus SBMPTN tahun ini, saya pasti akan sangat kecewa.
Beruntung, saya memiliki Bapak yang senantiasa mengingatkan saya untuk ikhlas menerima hasilnya nanti. Jika memang Tuhan tidak berkehendak saya kuliah di ITB, ya tidak apa-apa—itu juga keputusan Tuhan. Saya diajarkan untuk percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik. Perlahan-lahan saya pun belajar untuk lebih berserah. Masa depan ada di tangan Tuhan. Untuk bisa sukses, saya tidak harus kuliah di ITB; yang penting saya berjalan bersama Tuhan.
Sebagai wujud kepercayaan itu, saya juga mendaftar Ujian Mandiri UGM. Motivasi saya mendaftar UM UGM bukan karena saya ingin berkuliah di sana, melainkan sebagai bukti bahwa di mana pun Tuhan memberikan saya tempat untuk berkuliah, saya akan menerimanya.
Saya mendaftar Ujian Tulis (Mandiri) UGM dengan pilihan sebagai berikut:
-
Teknik Elektro
-
Teknik Sipil
-
Teknik Perencanaan Wilayah dan Tata Kota
Dan jika seandainya saya tidak lolos satu pun pilihan, saya sudah berniat untuk mengikuti ujian perguruan tinggi lainnya seperti ITS, Unbraw, atau universitas lainnya.
Tibalah hari-H ujian SBMPTN, lalu disusul ujian UGM. Saya percaya semua jawaban yang saya tulis di lembar jawaban merupakan jawaban yang Tuhan tuntun. Puji Tuhan saya bisa mengisi:
SBMPTN: Saintek 31/60 – TKPA 78/90
UTUL UGM: Saintek 45/75 – TKDU 55/60 – TPA 60/60
Apa pun yang terjadi, terjadilah. Dan ternyata hasilnya adalah …
Puji Tuhan, saya lolos di STEI ITB serta Teknik Elektro UGM.
Saya percaya inilah mukjizat dari Tuhan. Tanpa pertolongan-Nya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saat itu saya belum bisa berserah diri kepada Tuhan, mungkin saja saya tidak akan lolos. Saya juga sangat bersyukur karena Tuhan telah menunjukkan kepada saya metode belajar yang akhirnya menghantarkan saya diterima di dua PTN terbaik di Indonesia, yaitu ITB dan UGM.
Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi teman-teman semua untuk rajin belajar, dan yang paling penting, selalu berserah kepada Tuhan, karena masa depan kita ada di tangan-Nya.




Komentar
Posting Komentar